sukses is simple

banyak dari kita mimpikan MENJADI ORANG SUKSES.......
......namun diluar dari kita, ada yang telah menjalani & melakukan PROSES MENJADI ORANG SUKSES..........

...." Sukses tetap dimulai dari satu langkah...MULAI SEKARANG"...........................

Selasa, 10 Desember 2013

Dr.Prabowo.PB: "SERTIFIKASI Training".....what apps

Dr.Prabowo.PB: "SERTIFIKASI Training".....what apps: Rentetan Alasan Mengapa Training Soft Skills Bermanfaat Banyak orang berpendapat bahwa, soft skill adalah motivational. Artinya seseo...

"SERTIFIKASI Training".....what apps



Rentetan Alasan Mengapa Training Soft Skills Bermanfaat
Banyak orang berpendapat bahwa, soft skill adalah motivational. Artinya seseorang yang semula tidak bersemangat bekerja, kemudian disertakan ke suatu pelatihan yang dipimpin oleh seorang motivator terkenal dengan harapan dimotivasi. Dan jika Anda kebetulan menjadi peserta, Anda tentunya akan terbawa suasana dan menjadi sangat bersemangat saat itu.
Pernyataan di atas hanya benar sebagian kecil. Soft skill tidak terbatas pada kemampuan untuk termotivasi, tetapi lebih-lebih lagi merupakan keterampilan memotivasi diri. Dalam istilah Neuro-Linguistic Programming (NLP) soft skill merupakan ketrampilan menggunakan internal representational system secara tepat sehingga kita mampu berada dalam state (kondisi mental) yang tepat. Hal ini dinyatakan sangat jelas dalam kalimat presupposition of NLP “there is no unresourceful people only unresourceful state (tidak ada orang yang tidak berdaya hanya ada orang yang beroperasi dengan kondisi mental yang tidak berdaya.”
Tidak selamanya soft-skill tidak terukur, hanya saja umumnya soft skill menjadi landasan pengaplikasian hard skills. Sebagai contoh menjual sering dianggap sebagai keterampilan terukur, yaitu hasil penjualannya, misalnya sekian miliar pertahun. Namun, untuk mencapai hasil tersebut penjual mengaplikasikan soft skills di antaranya interpersonal skill dan intrapersonal skill.
Interpersonal skill adalah keterampilan seorang penjual berinteraksi dengan calon pembeli dan pelanggan, di saat yang sama ia mengaplikasikan soft skill—intrapersonal skill. Sebagai contoh bagaimana ia secara kecerdasan emosional menghadapi penolakan, bagaimana ia memompa semangatnya sendiri untuk mengetuk lebih banyak pintu, menelepon lebih banyak orang dan sebagainya. Di samping itu menjual membutuhkan keterampilan berkomunikasi dan tentu saja membangun keterampilan ini mengharuskan orang mempercayai kemampuan diri yang merupakan soft skill. Mengetahui bagaimana caranya mengoperasikan pesawat telepon merupakan satu hal namun mengetahui apa yang akan dikatakan dan cara yang tepat mengatakannya merupakan hal lainnya.
Seorang perawat tentu saja harus menguasai ilmu keperawatan dan ilmu pengobatan—misalnya. Namun bagaimana mereka dapat berkonsentrasi penuh dan membuat kinerja tindakan medis yang trampil & baik, sangat dibutuhkan soft skill seperti motivasi diri, fokus dan juga kecerdasan emosional.
Bagaimana dengan seorang supir ambulance? Tentu saja ia harus memiliki ketrampilan mengendarai mobil & mengetahui kegawatan pasien. Namun ia juga membutuh soft skill supaya ia dapat berkendara dengan baik dengan tetap memperhatikan kondisi pasien yang dibawanya, mengantarkan & mengambil/mengevakuasi pasien sampai tujuan serta termotivasi untuk terus manuver agar tetap melaju berada di jalanan yang macet. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa, soft skill adalah ketrampilan yang menjadi landasan bagi hard skill, maka tidak heran orang yang soft skill-nya tidak berkembang akan mengalami kesulitan mengembangkan hard skill-nya. Dengan demikian hampir tidak mungkin menguasai suatu keterampilan operasional tanpa memiliki soft skill.
Banyak perusahaan dan personal tidak ingin menginvestasikan uang mereka untuk membayar pelatihan soft skills. Alasan yang sering dikemukakan adalah hasil dari pelatihan soft skill tidak terukur secara nyata. Selain itu perubahan—kalau pun ada—bersifat sementara. Sebagai contoh seorang pengusaha yang menghabiskan puluhan—bahkan ratusan juta rupiah untuk training motivational, menemukan kenyataan bahwa, staf dan karyawan yang telah mengikuti pelatihan jarang atau tidak semuanya kembali ke tempat kerja dengan semangat menyala-nyala. Mereka seperti telah terjangkar dan terjebak dlam monoritmis di lokasi kerja, tidak bersemangat! Berkeluh-kesah dan tak henti-hentinya menuntut hak-haknya namun cenderung melalaikan kewajiban-kewajiban.
Jika itu pendapat Anda, saya sungguh setuju. Terutama bahwa orang bisa terjangkar atau terasosiasi secara tandem terhadap tempat kerja yang monoritmis sehingga membosankan serta memicu emosi-emosi negatif, boro-boro bersemangat. Begitu melihat meja kerja dan tumpukan pekerjaan perasaan enggan mendadak sontak muncul, semua cerita motivasi tersapu tak bersisa. Sebenarnya keadaan ini adalah sebuah alasan untuk memberikan training dan meningkatkan soft skills staf dan karyawan—menciptakan agent of change. Mengapa demikian? Tempat kerja merupakan aspek lingkungan yang tidak dapat mengubah dirinya guna menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan manusia di dalamnya. Manusialah yang dapat mengubah persepsinya atau melakukan tindakan bertujuan memengaruhi lingkungan itu. Perubahan persepsi akan memampukan orang mendisasosiasi dengan lingkungan yang memberi dampak negatif. Dengan mind set berbeda pekerjaan yang menumpuk di atas meja dapat dipersepsi ulang sebagai tantangan yang menimbulkan antusiasme untuk menuntaskannya. Training yang tepat sasaran membantu para peserta menguasai kemampuan memotivasi diri dan dengan demikian ia akan menjadi kapabel untuk terus-menerus mempersepsikan sisi-sisi positif bagi dirinya.
Pengusaha lain berpendapat lain lagi, seseorang yang bersusah-payah mendapatkan pekerjaan seharusnya selalu termotivasi untuk bekerja keras dan cerdas serta siap seratus persen untuk menjalankan tugas dalam situasi dan kondisi bagaimanapun. Tidak perlu lagi ditraining, apalagi soft skill yang hasilnya tidak terukur.
Betul sekali. Orang yang berani melamar suatu pekerjaan harus konsisten dengan apa yang pernah dikatakannya pada saat interview bahwa, ia telah memiliki kapabilitas menjalankan pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Tetapi pada umumnya yang dimaksud kapabilitas atau kecakapan adalah keterampilan operasional. Supaya dapat terus-menerus berkinerja maksimal di bidangnya, orang tidak hanya membutuhkan hard skills, tetapi juga perlu meningkatkan kapabilitas kecerdasan emosional dan spiritualnya. Maka ini menjadi suatu alasan  pentingnya pelatihan soft skills, yakni meningkatkan kecerdasan emosional dan spritual. Peningkatan ini akan membawa dampak positif baginya untuk meningkatkan kinerja kerja. Pada gilirannya tentu saja karyawan tersebut membawa dampak positif pula bagi perusahaan.
Tidak jarang para pengusaha mengatakan, “Hei, aku sudah menjalankan perusahaan ini selama puluhan tahun, dan aku tidak pernah memerlukan pelatihan komunikasi, motivasi, negosiasi atau si-si lainnya. Kalau ada pegawai yang tidak kompeten ya dikeluarkan saja dan cari lagi. Di luar sana banyak yang nganggur!” Emang gua pikirin hal soft skill....????
Apa yang dikemukakan golongan pengusaha ini tak terbantahkan kebenarannya. Namun dengan tidak mengembangkan interpersonal dan intrapersonal staf dan karyawan, mereka memiliki kerugian-kerugian di antaranya adalah:
a)      Perusahaan berjalan di tempat dan tidak pernah mencapai puncaknya disebabkan orang-orang yang bekerja di dalamnya juga berjalan di tempat.
b)     Selain itu ongkos yang dikeluarkan untuk memecat dan merekrut bisa mencekik leher.
c)      Praktek ini juga menguras tenaga dan pikiran serta emosi yang tidak sedikit.
d)     Kerugian terbesar yang dapat ditimbulkan cara pandang dan praktek ini adalah karyawan bintang akan “pergi dengan suka-rela” sementara yang dead wood (kartu mati) akan bertahan.
e)     Jarang ada rekruit baru berkembang sebab mereka diceburkan ke dalam lingkungan kerja yang tidak sehat. Akhirnya lingkaran setan terulang lagi, yang berprestasi akan pergi dan yang ‘memble’ bertahan. Maka di sinilah alasan ketiga mengapa pelatihan soft skills perlu diberikan kepada para karyawan bintang agar mereka betah sebab merasa menemukan tempat bertumbuh-kembang dan dibantu untuk menggali potensi diri semaksimal mungkin.
Kelompok pengusaha lain akan menyanggah pendapat di atas dan mengatakan biasanya karyawan itu kalau sudah diberi training-training dan dibina akan “terbang” ke perusahaan lain yang menawarkan gaji dan remunerasi lebih baik. Tetapi bukankah ini alasan keempat mengapa pelatihan soft skills perlu diberikan sebab membantu proses penyeleksian? Staf atau karyawan yang tidak loyal pasti akan pergi cepat atau lambat. Tentunya semakin cepat mereka pergi semakin baik, sebab memberi perusahaan kesempatan mendapatkan loyalist sejati. Selain itu juga memberikan alasan lain pentingnya pelatihan soft skills yaitu direksi atau manajemen akan mendapatkan feedback bahwa, perusahaan belum menjadi perusahaan yang diincar atau mendapatkan karyawan berkinerja tinggi, masih dibutuhkan peningkatan sehingga karyawan bintang dapat dipertahankan.
Alasan berikutnya adalah mengapa training soft skills diperlukan adalah banyaknya keluhan bahwa, perusahaan—baik manajemen maupun karyawan overload dan tidak memiliki waktu untuk rekreasi apalagi training. Kan cape setelah bekerja lembur setiap hari dari Senin hingga Jumat, Sabtu masih harus mengikuti training? Rekreasi saja lebih enjoy ! Overload menandakan manajemen waktu—sebetulnya manajemen aktivitas, pendelegasian tugas—yang tidak efektif sedang berlangsung di perusahaan. Semua orang, mulai dari jenjang paling tinggi hingga OB merasa kekurangan waktu dan dibebani tugas yang terlalu banyak. Akibatnya hampir setiap orang mengalami burn-out, berkeluh-kesah, cepat tersinggung dan tidak peduli pada kepentingan orang lain.
Alasan klise lain yang dikemukakan untuk tidak memberikan kesempatan kepada staf dan karyawan mengembangkan diri adalah: TIDAK ADA BUDGET! TIDAK ADA DANA! Bukan hanya tidak rela mengeluarkan dana untuk training, bahkan banyak perusahaan berusaha menghindari menyertakan karyawannya dalam program Jamsostek dan dana pensiun. Sungguh pernyataan di atas—TIDAK ADA BUDGET/DANA—tidak jarang terdengar. Namun perusahaan yang memahami dan serius dengan semboyan “karyawan adalah aset yang berharga”, pasti mencadangkan sejumlah dana untuk training. Jadi alasan keenam pentingnya pelatihan soft skill disebabkan karyawan adalah aset perusahaan yang sangat penting.
Setelah keenam alasan di atas, manajemen masih dipersulit oleh kenyataan terlalu banyaknya lembaga atau perorangan yang menawarkan training; mulai dari motivational hingga out-bound training. Selain bingung memilihnya juga banyak yang ternyata kurang kompeten. Tetapi inilah suatu alasan juga untuk membelanjakan uang perusahaan dan sangat mudah sebenarnya memilih training yang bermutu dengan harga terjangkau. Banyaknya lembaga atau perorang yang menawarkan training justru membuka kesempatan bagi dunia usaha untuk memilih yang terbaik di antaranya. Namun bagaimana caranya? Inilah beberapa saran memilih trainer yang bermutu.
1. Trainer berpengalaman di bidang manajemen dan kepemimpinan. Pengalaman demikian diperoleh melalui bekerja berpuluh tahun di perusahaan dan industri berbeda. Pengalaman yang luas memampukan seorang trainer memberikan materi yang tepat guna dan tetap sasaran. Apapun pertanyaan di seputar manejemen sumber daya manusia, interaksi yang melibatkan penggunaan soft skill dapat dijawabnya dengan baik.
2. Pendidikan yang cukup berarti trainer dan tim trainer paling tidak lulus S1 dan lebih baik lagi lulus S2 dan S3. Latar-belakang pendidikan mungkin tidak berhubungan dengan bidang pelatihan soft skill yang diberikannya, namun pendidikan di perguruan tinggi membuat orang dapat berpikir konseptual lebih baik daripada yang tidak. Tingkat pendidikan tentu saja tidak membuat orang berbeda secara harkat dan martabat, tetapi seorang trainer atau pelatih tidak cukup bermartabat saja ia juga harus kapabel berpikir dan mengajarkan hal-hal yang konseptual.
3. Kredibilitas seorang trainer. Apakah trainer atau lembaga training memiliki kredibilitas yang dapat dipercaya? Trainer yang kredibilitas selalu memberikan lebih daripada yang diharapkan, ia tidak akan memangkas materi dan jam pelatihan serta tidak menghindari pertanyaan-pertanyaan yang sulit.
4. Integrasi; artinya trainer atau lembaga training tersebut melakukan apa yang dikatakannya, memberikan pelatihan yang tepat sasaran buat perusahaan bukan sekedar menyampaikan materi yang dikuasainya—kadang-kadang hanya diketahui—saja.
5. Terjangkau; memang ada harga ada rupa, trainer berpengalaman dan telah memiliki reputasi baik mengenakan fee yang lebih tinggi, tetapi trainer yang baik mengenakan fee yang sepantasnya, mungkin saja perusahaan mengeluarkan uang yang banyak, tetapi mendapatkan nilai-nilai manfaat dan nilai tambah lebih besar lagi.
6. Menguasai bidang pengembangan sumber daya manusia seperti kecerdasan emosional. Tujuh tahun terakhir ini banyak sekali trainer yang mengaku dirinya menguasai Neuro-Linguistic Programming, hipnosis dan segala teknik berbau new age dan menawarkannya kepada dunia usaha, namun manajemen terutama yang mendapat tugas mencari trainer atau memilih program training perlu hati-hati. NLP merupakan bidang pengembangan diri yang luas cakupannya tidak cukup diketahui dan dijadikan bahan training singkat. Demikian pula hipnosis yang hanya dipelajari sehari dua hari tidak tepat digunakan untuk mengajari orang lain. Bagaimanapun trainer merupakan orang luar yang tidak memahami perusahaan Anda sebaik diri Anda, jadi lakukan interview sebelum mengontrak seseorang untuk pekerjaan penting.
7. Trainer yang melakukan riset dan menulis buku. Tentang hal inipun Anda harus jeli, sebab banyak sekali orang menulis buku dan hal ini tidak secara otomatis menunjukkan kompetensinya. Bukan hal mustahil menulis buku dari kopas berbagai sumber, dan tentu saja orang juga dapat membayar orang lain untuk melakukannya.
8.Seringkali user terjebak dengan alur birokratis hal trainer & lembaga training, padahal telah jelas regulasi yang mengaturnya, bahwa kecuali taining yang dianggap kategori kompetensi, maka sebenarnya tak ada regulasi yang mengatur jelas, bahkan banyak sertifikasi yang sebenarnya secara internasional diakui, di negeri “rayuan pulau kelapa” tercinta ini justru tidak diakui.
9.Akhirnya banyak para profesional yang terjebak mencari sekedar selembar kertas yang penuh dengan konversi satuan kredit profesi (SKP) agar menjadi “gagah & berwibawa” khususnya menjadi seorang “pegawai negeri” layaknya amtenar para mandor di jaman kolonial, namun rapuh dalam muatan substansi hard skill, apalagi soft skill.
Kalimat “sertifikasi” menjadi gagah dan hingar bingar arogan, namun hanya berakhir dengan selembar sertifikat, ibarat investasi itu adalah membeli selembar kertas yang penuh cap dan tanda tangan para “pejabat papan atas”, namun rapuh dalam substansi ilmu yang tandem.
Tentunya banyak lagi kriteria-kriteria seorang trainer yang baik. Sangat dianjurkan sebelum mengundang seseorang lebih baik melakukan pertemuan tatap-muka. Bicarakan keinginan dan kebutuhan perusahaan lalu amati dengan cermat apakah orang atau tim tersebut mampu memenuhinya. Amati pula apakah mereka hanya membicarakan apa yang mereka ketahui atau menawarkan solusi-solusi yang tepat.
Kita seharusnya menjadi sedih ketika negeri ini bermental “pengemis” yaitu masyarakat yang enggan bekerja keras, namun ingin secara instan mendapatkan bertumpuk-tumpuk RUPIAH. Kategori pengemis adalah mulai dari asongan di perempatan lampu merah, stasiun, terminal bis, atau sudah punya warung kaki lima di pasar serta beberapa pusat keramaian, bahkan sampai di tataran yang memiliki kantor bergengsi dengan stelan jas dan berdasi, bahkan memiliki label “pejabat”, namun akhirnya semua akan kena batunya, tinggal berbeda dalam instansi yang akan menggiring dan mencekik lehernya. Kalau klas asongan ya dibawah depsos yang membina, klas kaki lima ditambah bantuan satpol yang menertibkan, kalau kelas yang berkantor, maka KPK yang menjadi algojo akhir. Hal ini dilatih dengan gaya ikut pelatihan namun hanya berharap selembar sertifikat agar dikatakan telah tersertifikasi.....
Nah.... Soft skill is never die... disitulah muncul serta nampak perannya...

Selasa, 19 November 2013

Dr.Prabowo.PB: SEJAWAT DOKTER MOGOK MASAL SERENTAK NASIONAL

Dr.Prabowo.PB: SEJAWAT DOKTER MOGOK MASAL SERENTAK NASIONAL: Press Release PB POGI, PB IDI dengan Media Massa Kita Semua terkejut mendengar kabar di tahannya Sejawat kita oleh Kejaks...

SEJAWAT DOKTER MOGOK MASAL SERENTAK NASIONAL


Press Release PB POGI, PB IDI dengan Media Massa

Kita Semua terkejut mendengar kabar di tahannya Sejawat kita oleh Kejaksaan Agung yang sampai saat ini masih ramai diberitakan dimedia massa, telah timbul berbagai macam penafsiran baik yang benar maupun yang tidak benar tentang kasus tersebut. Apalagi dengan kalimat-kalimat "dokter Malpraktek" ditakutkan akan menyebabkan salah persepsi didalam masyarakat tentang profesi kedokteran. Didalam hubungan dokter dengan pasien berlaku hubungan kerjasama dan tidak pernah menjanjikan hasil, tetapi suatu upaya dengan kaedah-kaedah profesional.

Untuk itu PB POGI merasa perlu untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya tentang profesi kedokteran tersebut, khususnya bidang kebidanan dan kandungan. Selain itu masyarakat juga perlu tahu bagaimana sebenarnya duduk perkara yang menimpa sejawat kita tersebut. Pada tanggal 11 November 2013 Jam 15.00 WIB telah dilangsungkan Conferensi Pers yang Alhamdulilah juga dihadiri oleh Ketua PB IDi dan Ketua Bidang Pembelaan dan Pembinaan Anggota.

Dari PB IDI dihadiri oleh :

  1. Ketua PB IDI dr. Zainal Abidin,M.H
  2. Ketua Divisi Pembelaan Anggota Biro Hukum / Pembinaan dan Pembelaan Anggota : dr. H. N. Nazar, SpB.M.H
dari PB POGI dihadiri oleh :

  1. Ketua PB POGI : dr. Nurdadi Saleh, SpOG
  2. Sekretaris Jenderal : dr. Ari Kusuma, SpOG
  3. Ketua Bidang Ilmiah : dr. Andon Hestiantoro, SpOG (K)
  4. Ketua P2KB Pusat dan Koordinator Website : dr. Irsyad Bustamam, SpOG
Juga dihadiri oleh Ketua Dep. Obgyn Manado  RS. Kandau : dr. Freedy, SpOG.

dari Media massa dihadiri lebih kurang 20 Media Massa.

Dalam Acara itu dilakukan diskusi dan tanya jawab yang ditanggapi sangat antusias oleh media massa.

Kronologi Kasus yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah sebagai berikut :



Pesien Ny. SM 26 Tahun hamil anak ke dua masuk rumah sakit atas rujukan pukesmas.Pada waktu masuk di diagnosis sebagai anak kedua dan sudah dalam persalinan kala  satu, direncanakan persalinan secara alamiah. Delapan jam kemudian pasien masuk pada tahap persalinan, kemudian di pimpin meneran . Tiga puluh menit kemudian pesalinan tidak ada kemajuan dan timbul tanda-tanda gawat janin di putuskan untuk melakukan bedah Sesar emergensi.
Pada waktu sayatan dimulai keluar darah kehitaman(tanda  ibu dalam keadaan kekurangan Ogsigen), bayi berhasil di lahirkan dan sampai saat ini telah menjadi anak yang sehat. Pasca Operasi pasien memburuk,dua puluh menit kemudian pasien meninggal.
Tim dokter ( dr. Ayu, dr. Hendry,dr. Hendi ) dituntut JPU hukuman 10 bulan penjara. Pengadilan Negeri Manado menyatakan ke tiga terdakwa tidak bersalah      ( bebas murni ), karena salah satu alat bukti yaitu bedah mayat menyatakan bahwa sebab kematian karena Emboli udara (gelembung udara) yang ada di bilik kanan jantung jenazah,yang tidak bisa di prediksi dan di cegah.
Jaksa megajukan Kasasi Ke Mahkamah Agung, Kasasi di kabulkan.
PB POGI keberatan atas keputusan ini  dengan melayangkan surat ke Mahkamah Agung. Jawaban MA agar di ajukan upaya Peninjauan Kembali (PK).
PB POGI juga melayangkan surat ke Jaksaan Agung untuk melakukan penangguhan penahanan ke tiga dokter tersebut.
Dan seperti yang kita ketahui pada hari jum’at tanggal 08/11/2013 telah di tahan oleh ke Jaksaan.
Penjelasan lebih rinci adalah sebagai berikut :

  • Pasien Ny. SM 26 tahun G 2 P 1 A 0
  • Masuk di RS atas rujukan puskesmas karena  riwayat vacum
  • Pada waktu masuk didiagnosis sebagai : Hamil anak kedua  40 – 41 minggu, dalam persalinan kala pertama, Janin tunggal hidup letak kepala, Rencana  :  Persalinan secara alamiah (Partus per vaginam)
  • 8 Jam kemudian : Pasien ingin mengejan, Diagnosis  persalinan kala II, Sikap :  pimpin meneran 
  • 30 Menit kemudian :   Pada pemeriksaan  tidak ada kemajuan dan tampak tanda gawat janin (nekonium), Kesan : Partus tak maju  dan gawat janin, Sikap :  Seksio Cesaria Cito
  •  2 Jam kemudian : Operasi dimulai,Saat insisi keluar darah kehitaman,Lahir bayi wanita 4100 gr, NA 1 dan 4,Pasca operasi pasien terus memburuk,20 Menit kemudian pasca operasi pasien meninggal

Tim dokter :  dr. Dewa Ayu Sasiary, SpOG,
                  dr. Hendy Siagian, SpOG
                  dr. Hendry Simanjuntak, SpOG
                  oleh JPU dituntut hukuman selama 10 (sepuluh) bulan penjara

Putusan Pengadilan Negeri Manado
No. 90/PID.B/2011/PNMDO menyatakan  : 

Ketiga terdakwa (3 dokter) bebas dari semua dakwaan (vriysprak)
Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung
Putusan Mahkamah Agung no. 365/ K/Pid/ 2012 mengabulkan permohonan kasasi JPU.
PB POGI mengirimkan surat kepada Mahkamah Agung menyatakan keberatan atas keputusan kasasi tersebut berdasarkan :
  1. Yang bersangkutan dinyatakan bebas murni oleh Pengadilan negeri Manado
  2. Hasil analisis oleh MKEK Manado dinyatakan bahwa tidak ada kesalahan prosedur.
  3. Saksi Ahli menyatakan Seksio Sesaria telah dilakukan sesuai dengan standard yang berlaku.
  4. Yang terpenting hasil otopsi menyatakan bahwa  pasien meninggal karena Emboli udara. Yang sangat jarang, tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dicegah.
Jawaban Mahkamah Agung no.  491/PAN/HK.01/IV/2013 tanggal 14 April 2013 menyatakan agar yang bersangkut an mengajukan upaya hukum selanjutnya, yaitu Peninjauan Kembali (PK).
PB POGI no. 015/KU/VIII/13 tanggal 31 Juli 2013 juga mengajukan surat kepada Kejagung RI untuk Permohonan Penangguhan Penahanan.

Adapun Press Realese sbb :
  1. Menyatakan adanya penangkapan dokter spesialis kebidanan (dr. A, SpOG) di balikpapan oleh Satgas Kejagung di RS Permata Hati, di Jl. Imam Bonjol No. 1 Balikpapan Kaltim, Jum’at jam 11:00.
  2. PB POGI dan anggota POGI akan tetap mematuhi aturan  hukum yang berlaku.
  3. PB POGI saat ini sedang berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait, untuk melakukan pendampingan terhadap anggotanya (dr. A, SpOG) untuk tidak tergiring pada opini yang salah pada pihak – pihak yang mempunyai kepentingan langsung maupun tidak langsung.
  4. PB POGI tetap berupaya melalui jalur hukum untuk melakukan pembelaan terhadap anggotanya, dengan menjunjung tinggi nilai- nilai kebenaran dan hukum yang berlaku.
PB POGI / POGI Cabang Manado bersama PB IDi telah melakukan upaya-upaya yang diperlukan dalam penyelesaian kasusu ini.
Marilah kita sama-sama berdoa agar permasalahan yang menimpa sejawat kita ini dapat segera diselesaikan. dan sejawat kita bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.
Selain itu marilah kita semua berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik sebagai salah satu cita-cita luhur dari profesi kita ini.


Salam Sejahtera.
Ketua PB POGI

dr. Nurdadi Saleh, SpOG

Sabtu, 16 November 2013

Dr.Prabowo.PB: Battlefield Advanced Trauma Life Support

Dr.Prabowo.PB: Battlefield Advanced Trauma Life Support: History of Battlefield Advanced Trauma Life Support Following the attendance on one of the American courses by the late Brigadier Ian...

Battlefield Advanced Trauma Life Support



History of Battlefield Advanced Trauma Life Support
Following the attendance on one of the American courses by the late Brigadier Ian Haywood, a former Professor of Military Surgery, the need was identified for a similar course modified for military requirements. The Department of Military Surgery at the Royal Army Medical College [now the Royal Defence Medical College (RDMC)] and the Army Medical Services Training Group [now the Defence Medical Services Training Centre (DMSTC)] were tasked with devising a course for the British Army.

Although the Battlefield Advanced Trauma Life Support (BATLS) Course is about training doctors for war, there is nothing new in this. Medical officers in former times had to deal with the injuries of the day - contusions, lacerations, penetrating wounds and broken bones - and under the primitive conditions prevailing at the time.

The Modern Era
Today’s medical services still have to deal with similar wounds, but they also have to contend with injuries produced by modern weapons - including not only gunshot wounds, but more importantly,multiple injuries produced by fragments with relatively high velocities and capable of
J R Army Med Corps 2000; 146: 110-114

BATLS Battlefield Advanced Trauma Life Support (BATLS)

Fragments and bullets
Bombs, shells, grenades and other explosive devices, cause death and injury due to victims being hit by primary and secondary fragments and due to the effects of blast. In older weapons, primary fragments were derived from the weapon casing and, as such, had wide variation in size, shape and weight. These weapons produced Random fragmentation and producing high energy-transfer wounds. They also have the problems of the effects of blast and the horrors of extensive burns.

Modern fragmentation amunitions are designed to deliver many hundreds of preformed fragments of different types. These fragments are much more uniform in size, shape and weight. Examples include, the pre-notched wire in a hand grenade, flechets in bomblets and etched plates in shells and mortar bombs. These weapons are referred to as improved (pre-formed) fragmentation devices Improved fragmentation devices are designed not to increase lethality but, to increase the likelihood of a hit. In fact, the lethality has fallen. The concept of the use of these weapons is a simple one: increase the likelihood of a hit, generate more enemy casualties and choke his logistic evacuation chain. The same concept also applies when these weapons are used by the enemy against friendly forces!

Table 1-1 Lethality of penetrating missiles
Type Lethality
Random fragmentation 1 in 5 (Shell)
devices 1 in 10 (Grenade)
Improved (Pre-formed) 1 in 7 (Shell)
Fragmentation devices 1 in 20 (Grenade)
Military bullet 1 in 3

Early rifle bullets depended on their mass and shape in order to produce injury, velocity was less important. For modern rifle and machine gun bullets, mass has fallen considerably but velocity risen dramatically. Given that the energy of a missile is derived from the formula 1/2JMV2 [M = mass, V =
velocity], this means the available energy in a modern military bullet has risen several fold.

Dr.Prabowo.PB: TRAUMA CAPITIS

Dr.Prabowo.PB: TRAUMA CAPITIS: TINJAUAN TEORI A.   Definisi Cedera Kepala Cedera kepala merupakan cedera yang mengenai kulit kepala hingga tengkorak (Cranium da...